“Jack…, udah ngerjain laporan praktikum lum…??”, ujar John kepada Jack. “Ah…, santaimi.. dua hari lagi kok dikumpulkan.., jangan di ambil pusing deh…!!!! Toh kita nanti bisa nyontek punya si DuDu…, iya kan…??”, jawab si Jack. Ini salah satu kasus yang sering kita jumpai dilingkungan kampus kita, tiada lain ini merupakan representatif dari penyimpangan budaya santai. Dalam hal ini jelas bahwa telah terjadi distorsi budaya santai yang semula diartikan positif menjadi sebuah fenomena krusial intrinsik bagi setiap kita, yaitu kemalasan nan menghancurkan.

Kebanyakan kalangan mahasiswa dan mahasisiwa terjebak dengan kebiasaan santai yang menggiurkan. Kebiasaan santai ini bisa ditinjau dari dua sudut pandang yang berbeda. Karekteristik santai bisa dimaknai positif dan bisa pula memberikan kesan negatif, tergantung konteks memandangnya. Ya…, santai itu baik karena tidak menimbulkan ketegangan dan kegelisahan pada segenap aktifitas kita. Namun di sisi lain, makna santai ini bisa pula menimbulkan pengaruh negatif secara signifikan bagi kebanyakan kita. Kebanyakan mereka; mahsiswa; bahkan kita; tidak menyadari bahwa budaya santai itu juga akan dapat menggiring kepada “sindrom kemalasan” yang dapat mengubur potensi-potensi yang dimiliki pemuda/i tersebut. Sepele memang, namun hal tersebut sangat berpengaruh terhadap pola kebiasaan keseharian yang nantinya bermuara kepada pembentukan karakter pencerminan diri masing-masing.
Setiap kita perlu memahami secara cermat batasan atau kategori dari kebiasaan-kebiasaan tersebut. Sehingga kita mampu memilah mana budaya santai yang dapat memberikan pengaruh positif pada segenap aktifitas kita dan mana budaya santai yang identik dengan kemalasan. Sesungguhnya kemalasan inilah yang dapat mengiris atau meredam potensi dan harapan setiap kita menuju manusia pembelajar yang berprestasi.
Untuk itu, sebagai mahasiswa/i muslim yang baik dan tangguh, kita perlu merenungkan firman Allah SWT berikut :“Hai orang-orang yang beriman…! bertakwalah kepada Allah dan hendakalah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya sebagai persediaan untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS.al-Hasyr :18). Dalam ayat ini jelas bahwa Allah SWT memerintahkan kepada kita agar senantiasa berorientasi ke depan, jangka panjang, serta mempersiapkan hal-hal yang dapat mengantarkan setiap kita menuju cita-cita yang mulia. Allah SWT menyuruh kita ber’amal kebaikan dan mengoptimalkan segenap potensi dan kesempatan yang masih diberikan-Nya. Bukan malah menyia-nyiakan waktu begitu saja dengan dalih santai, biar lambat asal selamat.
Kita telah memahami bahwa budaya santai tidak selamanya memberikan andil positif pada diri kita, malah sering budaya santai ini melegitimasi sikap malas dan kebodohan seseorang. Tibalah saatnya kita memilih : pengen jadi mahasiswa/i yang aktif dan produktif dengan sejuta harapan atau menjadi mahasiawa/i pasif yang terus tersimpu paku di sudut kamar dengan sejuta penyesalan?
Ada beberapa hal yang dapat mengantisipasi kebiasaan negatif tersebut, yaitu: pertama, tidak menunda-nunda pekerjaan. Sering kemalasan itu muncul karena bertumpuknya agenda-agenda yang harus dikerjakan. Padahal tugas atau pekerjaan tersebut tidaklah sulit. Secara psikis, tugas yang bertumpuk-tumpuk membuat daya kreasi dan intuisi otak terhambat, sehingga imaginasi untuk berkreasipun redup dan padam. Mulailah dari sekarang…!!! inilah saatnya…..!!! ukir prestasi… !!!! OK…??
Yang kedua adalah membuat tujuan jangka panjang dan pendek secara jelas dan tertata. Banyak orang terperosok pada kesibukan sehari-hari dan merasa sudah bekerja keras dengan optimal. Namun sebenarnya dia tidak melakukan apa-apa. Maksutnya (karena) ia tidak memiliki tujuan yang jelas dari kesibukan yang ia lakukan itu. Baginya terpenting bagaimana ia bisa melewati kesehariannya hanya dengan berkerja. Itu tidaklah ideal, karena orang bijak senantiasa menentukan terlebih dahulu apa tujuan yang hendak dicapai dengan jelas dan tertata barulah ia memulai bekerja secara optimal.
Oleh karena itu, agar hidup kita tidak sia-sia perlu kita memahami apa sebenarnya hakikat tujuan penciptaan kita, dari mana kita, mau kemanakah langkah perjalanan hidup kita, apa yang kita lakukan untuk mempersiapkannya. Sehingga benar ilustrasi yang dikatakan oleh Bill Gates (pemilik Microsoft, terkaya di dunia) : “If You have a clear vision you ‘ll even forget your breakfast,” (apabila anda sudah memiliki tujuan yang jelas, anda akan lupa dengan makan pagi anda).
Sedangkan yang ketiga adalah perbaikan hati dan manajemen diri. Di sini dituntut latihan untuk mau mengintrospeksi diri seraya bermuhasabah terhadap hal-hal yang telah kita lakukan. Bandingkan amal kebaikan dengan dosa-dosa yang kita lakukan! Sudah optimalkah waktu yang masih Allah berikan kepada kita? Atau malah penuh dengan kemaksiatan pada setiap desahan nafas kita? Ingatlah wahai kawan….!! janji Allah pasti akan datang, rela atau tidak, maut akan menjemput kapanpun dan dimanapun bila telah datang waktunya.
Semoga pribadi akhlak iman memancar pada setiap diri kita dengan tidak terjebak kepada budaya santai yang mengasyikkan, sehingga segenap proses langkah ke masa depan bagi setiap kita, lebih terarah dan bermakna seraya memohon bimbingan dari-Nya. Ingat wahai kawan…!! buat apa kenikmatan sesaat bila berujung laknat??? Selamat mencoba Saudaraku….!!!


Di nukil dari Daud dengan sedikit perubahan
READ  Guru yang terbaik