Artikel ini merupakan artikel yang aku temukan di internet, makna nya sangat dalam. Mudah-mudahan bisa mendapat pencerahan bagi kita. Khususnya seorang muslim.

“Guru Yang Terbaik”
Ada seorang guru mengajar di kelas, menerangkan sebuah pelajaran. Guru tersebut hampir 1 jam nenerangkan. Setelah pelajaran di akhiri, ditanyakan kepada murid :
“Apakah ada yang perlu ditanyakan ? atau kurang mengerti ?”
ada satu anak yang angkat tangan”
“Ya silahkan tanya apa nak ?”
“Saya tak paham yang ibu terangkan” jawab sang murid
“Bagian yang mana ?”
Jawab si anak “Semuanya”
Bagaimana sikap sebagai guru ?
Ada tanggung jawab untuk membimbing siswa itu sampai paham. “Baik saya ulang lagi ya”, kata guru itu. Lalu sang guru pun menerangkan ulang. Sehabis pelajaran selesai guru pun bertanya “Apakah sudah bisa dipahami ?” Tanya guru. “Belum” jawab si siswa tadi, “Bagian mana yang belum?” Kembali guru bertanya. “Semuanya”, jawab sang murid.
Si guru garuk-garuk kepala, kalau diterangkan ulang jelas tidak mungkin, kasihan siswa lain, waktunya bisahabis. Akhirnya sang guru berkata, “Baiklah nak, Pulang sekolah, habis makan siang kamu datang kesekolah lagi ya, nanti saya terangkan ulang”
Si guru memberi les tambahan pada satu siswa itu, selesai memberi pelajaran tambahan ditanyakan kembali “Bagaimana, sudah faham ?” Kemudian di jawab sang Murid “Belum”, “Bagian yang mana?” Tanya guru lagi. “Semua nya” jawab siswa itu
Si guru makin garuk-garuk kepala, “Baiklah nanti saya beri waktu lagi untuk menerangkannya ya, saya nanti akan kerumahmu, kita ulang disana” Akhirnya les tambahan dilakukan dirumah orangtua siswa itu. Ternyata siswa belum paham juga, sedikitpun tidak paham.
Kali ini siswa diundang ke rumah guru untuk diberi les tambahan. Sang guru menerangkan ulang pelajaran yang siswa tadi belum paham. Setelah selesai menerangkan pelajara, maka guru pun menanyakan kembali, “Apakah sudah faham ?” Lantas dijawab sang murid “Belum”, “Bagian yang mana ?” Tanya sang guru kembali, “Semua”, jawab siswa itu.
Si siswa malah jengkel dan marah sambil berkata “Bu guru yang tidak bisa mengajar, Ibu nggak pantas jadi guru” SAmbil berkata demikian, dia lembar bukunya, pulpen dan semua yang ada di depannya ke guru.
Dalam keadaan demikian, tidakkah guru itu berhak untuk marah ? Ya, guru itu berhak marah. Dan seorang guru normalpun akan marah, semua orang akan membenarkan kalau guru itu memarahi, mengumpat, memaki bahkan memukul anak itu.
——————————-
Rasulullah adalah guru terbaik sepanjang masa.
Beliau mengajari dengan metode terbaik, kurikulum terbaik dan yang diajarkan pelajaran yang sangat sederhana, “Qullu Laa Ilaha Illallah tuflihu” “Katakanlah Laa Ilaaha Ilallah maka kamu akan Sukses”
 
Berapa lama beliau mengajarkanna ? 12 Tahun beliau mengajarkannya di Mekkah dan dalam bahasa mereka sendiri, bahasa Arab dan apa jawaban orang-orang ? “Saya tidak mengerti, Beri aku yang lain.. aku tidak tertarik” dan sebagainya. Dan mereka tidak hanya mengatakan “Aku tidak mengerti” Tapi mereka juga mencemooh sang pengajarnya, Mereka mencemooh Rasulullah. “Oo, kamukah yang mengaku nabi, Apakah tidak ada orang lain yang pantas menjadi Nabi?”
 
Bahkan mereka memrangi Rasulullah, dalam keadaan demikian tidakkah Rasulullah berhak untuk marah ? Ya, rasulullah berhak marah dan apakah asulullah Marah ?
Pada suatu masa, beberapa sahabat datang kepada Beliau, ditengah-tengah pertempuran sebuah pertempuran sedang bergejolak, Sahabat berkata kepada Rasulullah “Orang-orang Tsaqif sedang membantai kita dengan panah-panah mereka, Berdoalah kepada Allah ya Rasulullah, agar Allah sapu bersih mereka dari muka Bumi”
 
Rasulullah mengangkat tangan lalu bedo’a, Para sahabat menyangkan Rasulullah berdoa seperti yang mereka minta. Ketika beliau membuka mulut, beliau berkata : “Allahummadi Tsaqifan… Ya Allah, berilah hidayah kepada Bani Tsaqif”
 
Selepas itu beliau menoleh ke para sahbat dan bersabda :
“Aku tidak di utus untuk melaknat orang-orang,
aku tidak diutus untuk mengutuk orang-orang
Aku tidak diutus untuk menghancurkan orang-orang 
Sesungguhnya aku diutus untuk memohonkan rahmat”
 
Beliau tidak pernah marah kepada ummat
Beliau senantiasa berdo’a untuk ummat.
Beliau senantiasa menangisi Ummat
Sollu ‘ala Rasulillah…
Habibi al Mustofa.
READ  Penumpang Penting, Tapi yang sering Kita Lupakan