Ini awal mula aku pulang kampung ke Sumatera Barat. Maklum setelah terakhir kali kelas 6 SD tidak pulang kampung beramai-ramai dengan orang-orang yang di sebut “Keluarga”, ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Sumatera Barat Kembali.

Terakhir ke Sumatera Barat Cuma bersama teman-teman dalam rangka event Gowes, kalau ini bukan kategori pulang kampung kan ? tapi Cuma jalan-jalan santai saja.

Jadi untuk pulang kampung kali ini aku pulang bersama keluarga baru dari istriku.

Yaps, nama kampungnya bukik apik. Terletak di daerah di payakumbuh dengan nama kabupaten sungai naniang. Bagi lidah orang Indonesia mungkin nama 2 daerah tersebut agak susah di sebutkan ya ? maklum dialek penyebutan dalam bahasa minang agak sedikit berbeda, tapi hampir-hampir mirip kok dengan bahasa Indonesia.

Dengan kendaraan roda 4 area kampung ini bisa di lewati dengan lancer, tapi ada di beberapa tempat yang mesti dengan kehati-hatian tingkat tinggi, dikarenakan ada longsor dan jalan yang sedikit rusak, kalau nggak hati-hati ya bisa celaka.

Kalau di hitung lama perjalanan dari pekanbaru ke sini, kurang lebih sekitar 12 jam perjalanan, itu belum termasuk macet, apalagi kalau libur panjang, terutam idul fitri..

Beughh!! Pasti terasa sekali macetnya.

Maklum, orang minang itu rata-rata perantauan, jadi ketika idul fitri adalah momen mereka untuk pulang kembali ke kampung halaman.

Dan momen aku pulang ke sini kebetulan tidak bertepatan dengan hari besar libur, kami datang kesini untuk berkunjung ke sanak family dari keluarga istriku yang akan melangsungkan pernikahan.

Yah, sedikit banyak cerita mengenai kampung ini. Ketika sampai di lokasi tujuan. Hal pertama yang kurasakan berbeda dari Pekanbaru adalah satu saja.

READ  4 Tahun Bolak Balik ke Jakarta, Tapi Belum tau Dalam nya Monas Seperti Apa, Begini Rupanya

Yaitu dingin Broh !!!!

Mungkin kutaksir ada sekitar 20 Derjat celcius suhu disini, dengan posisi kampung yang terletak di atas bukit dan di tambah angin kencang setiap sore dan malam menambah rasa dingin yang sampai menusuk-nusuk tulang.

 

Banyak cerita, banyak kenangan disini. Ini pula pertama kali aku diajak mengunjungi keluarga istriku. Ternyata betul istilah menikah itu bukan hanya mempertemukan sepasang lelaki dan wanita, tapi pernikahan itu mempertemukan dua keluarga, dan diriku lah perwakilan keluarga orang tuaku yang bertemu dengan keluarga dari pihak istriku.