Kenapa tinggal di Jakarta, kata-kata itu terlintas dalam fikiran ketika memikirkan bagaimana keadaan di ibu kota ini. Penduduk yang ramai, kendaraan yang macet serta polusi dan kebisingan yang bisa di dengar setiap hari dan setiap saat di jalanan ibu kota ini. Hal itu kadang-kadang pernah juga aku tanyakan kepada beberapa rekan kerja yang kebetulan menjadi rekanan ku dalam project kali ini di jakarta.

Berikut beberapa pengalaman hari ini yang kembali membuat kata-kata di atas terngiang kembali dalam fikiran.
Hari ini aku bersama teman kerja (sunardi) berangkat menuju ke site untuk mengambil beberapa peralatan kerja guna di bawa ke site berikutnya. Kami berangkat menggunakan mobil operasional kantor menuju lokasi kerja, biasanya untuk ke lokasi tersebut kami hanya menggunakan transportasi umum di jakarta, yaitu Bus Transjakarta. Tapi untuk kali ini ada pengecualian dikarenakan kami akan membawa banyak barang dari lokasi tersebut sehingga membutuhkan kendaraan untuk mengangkutnya.
Perjalanan di mulai pada pukul 10.30 pagi menuju senayan. Karena belum mengetahui rute yang pasti menuju tempat tersebut kami hanya mengikuti rute yang biasa kami lalui dengan menggunakan Bus Transjakarta. Sesampainya di persimpangan menuju terminal harmoni aku mencoba menyebrang menuju terminal harmoni tersebut dengan mengikuti jalur busway yang sudah ada, ternyata jalur tersebut hanya di peruntukkan untuk busway dan bagi kendaraan pribadi tidak boleh untuk melewati jalur tersebut. Hal itu aku ketahui setelah klakson panjang menghentak kesadaran setelah lama terdiam di jalan untuk memastikan jalur tersebut. Sangat membingungkan, mungkin karena kami tidak hafal dan mengetahui kondisi di jakarta. Hhe.
Untuk memandu dalam perjalanan, kami menggunakan aplikasi bantuan yang sudah terinstall dalam smartphone yang bernama waze, aku sebagai pilotnya dan nardi sebagai kopilotnya (biar keren dikit ). Aplikasi ini sangat membantu pengguna jalan untuk mengetahui rute-rute yang harus di lalui jika ingin menuju ke suatu tempat yang di tuju. Akan tetapi walaupun sudah menggunakan aplikasi tersebut pun kesalahan dalam menentukan rute dan arah pun masih juga kami alami, terutama jika jalan yang dilalui tersebut harus melalui fly over, sehingga membuat aku menjadi bingung rute mana yang akan di ambil.

Setelah melalui perjuangan yang panjang dalam mencari jalan menuju tempat kerja, akhirnya kami bisa sampai juga pada lokasi yang di tuju. Untuk perkiraan jarak dan lama tempuh dari rumah ke lokasi kerja aku perkirakan adalah 2 jam, yaitu dari pukul 10.30 sampai dengan 12.30.

Kejengkalan pun sebenarnya belum selesai sampai disini, disaat mobil yang kami kendarai sudah sampai di kantor, permasalahan untuk menemukan tempat parkir pun mulai terjadi. Mobil pun berputar-putar beberapa kali mengelilingi tempat parkir dari gedung kantor tersebut untuk mendapatkan tempat yang kosong, tapi hasilnya nihil selama hampir 1 jam, dan akhirnya tempat parkir pun bisa kami dapatkan di lantai paling atas dari parkiran gedung tersebut.

Dan pada akhirnya pengalaman baru yang bisa didapatkan dalam mengendarai mobil di Jakarta ini adalah ketika akan pulang dari Senayan menuju kalideres, kendaraan yang kami bawa harus melewati jalur Tri in One sepanjang menuju TOL. Dan celakanya lagi hal itu baru kami sadari setelah sampai di lampu merah menuju jalur tri in one tersebut, al hasil ketika ada wanita yang mengetuk-ngetuk pintu dari luar ingin masuk kedalam mobil aku biarkan dia untuk ikut dengan kami. Aku baru tau setelah di beritahu nardi untuk membiarkan wanita itu masuk sebagai joki three in one dalam perjalanan kami.

READ  Merasa Bodoh Setelah Bekerja

Demikianlah pengalaman yang membuat otak menjadi pusing dan fikiran menjadi ruwet.
tapi kembali lagi kepada artikel selanjutnya yang segera akan aku tulis, bisa itu karena biasa. Tinggal hanya membiasakan diri saja.

Mudah-mudahan bisa. -_-