Tidak pernah terbayang sebelumnya kalau akhirnya kaki ini akan menginjak tanah di negeri seberang, tepatnya di negeri China di Kota beijing. Boro-boro mikiran keluar negeri, bisa pergi ke keluar kota dalam negeri saja udah sukur, maklum kesibukan padet didalam kota #alibi ga ada duit    -_-


Perjalanan itu sebenarnya terjadi pada tahun yang lalu, kemarin ada niat pengen posting di blog ini tapi karena kembali lagi seperti alasan di atas, yaitu kesibukan yang super sibuk akhirnya penundaan terus berlangsung sampaiiiii sekarang, tapi jika kalian udah baca tulisan ini berarti udah nggak di tunda-tunda lagi untuk posting nya. betul kan ?
Jadi awal mula ceritanya ketika sedang asik-asik kerja di Kantor :), tiba-tiba si bos memanggil. “Padil, 2 bulan lagi kamu pergi ke Beijing ya, karena bulan agustus itu ada training untuk kamu, bagaimana kamu mau kan?”. Mendengar pertanyaan seperti itu yang pertama kali terfikirkan adalah sepertinya pernah mendengar nama itu, jadi iseng bertanya kembali kepada bos, “Maaf pak, beijing itu dimana ya pak”? dengan pertanyaan lugunya. dan si bos pun menjawab: “Itu lo Cina, C I N A.” dan aku pun menjawab, “Oh Cina ya pak.. Ok2. Eh, Dimana pak ? Cina” Oalah kaget juga dengar penjelasan si boz kalau di suruh pergi ke cina. kemudian si bos menjawab “Iya, di china. Bagaimana kamu mau kan?” Mendengar pertanyaan seperti itu pertama yang di fikiran adalah ono opo iki, mimpi opo to tadi malam, siang-siang lagi kerja tiba-tiba di panggil sama si boz untuk di suruh ke cina, jangan-jangan di suruh jadi TKI lagi disana. Halah.
Tapi secepat kilat fikiran kembali sadar dan langsung berkata ke si boz “Hm, Ok Pak. Insya allah saya siap” yang  kemudian selanjutnya langsung di jawab oleh si boz, “Ok, kalau begitu segera kirim passpor kamu ke saya supaya saya bisa kirim ke Rekanan kita disana untuk membuat Visa kedatangan untuk kamu”. dalam fikiran ku “Wadu, si boz udah nyuruh kirim passpor segala, padahal punya saja nggak” dengan lembut aku  jawab kepada boz, “Waduh, maaf pak. Passport saya nggak punya. Jangan kan passport, SIM saja saya belum punya (Surat Izin Menikah)” #sambil tersipu sipu malu. Hha Kalimat yang terkahir kidding, gak mungkin lah di bilang begitu ke si boz.
“Oalah, saya kira kamu udah punya passport. Ok, kalau begitu segera kamu urus passport dan jika sudah selesai segera kirim ke saya” akhirnya dengan semangat 45 setelah keluar dari ruangan boz, aku segera mencari cara untuk membuat passport, setelah lama mencari-cari di internet, akhirnya ketemu juga caranya dan aku rangkum dalam artikel terpisah disini.
Hari-hari berlalu dan mendekat ke tanggal keberangkatan, sementara perasaan dan suasan hati semakin tidak menentu, karena memikirkan bagaimana disana dan akan seperti apa disana. Tapi yang jelas hal tersebut mesti di hadapi, karena sekali layar terkembang pantang surut atau berbalik kebelakang, #halah ga nyambung.
Ok, Menunggu postingan berikutnya. “Beijing, Owe Coming
READ  Pengalaman pertama deportasi di Singapura